loader loader

Artikel dan Berita

Ngaji Ekonomi Syariah

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Senin, 10 September 2018

Ekonomi Syariah sebagai Pendorong Era Baru Ekonomi Indonesia

EKONOMI syariah hadir secara resmi di Indonesia pada awal 1990-an, yaitu bermula ketika didirikan Bank Muamalat, lembaga keuangan syariah pertama di Indonesia.

Terhitung lebih belakangan bila dibandingkan dengan negaranegara muslim lain yang lebih dulu mengembangkan ekonomi syariah. Momen tersebut sangat bersejarah bagi umat Islam di Indonesia yang sudah sekian lama memiliki cita-cita berdirinya lembaga keuangan yang operasionalnya sesuai dengan prinsip ajaran Islam.

Di awal masa berdirinya Bank Muamalat, keberadaannya belum mendapat posisi yang layak di tengah industri perbankan nasional. Hal itu di antaranya disebabkan belum adanya cantolan peraturan perundang-undangan yang kuat.

Saat itu landasan hukum ope rasional bank syariah hanya disebut “sambil lalu” dalam UU No 7 Tahun 1992 sebagai “bank dengan sistem bagi hasil”.

Tanpa ada perincian landasan hukum syariah dan jenis-jenis usaha yang diperbolehkan serta aturan teknis lainnya. Kondisinya sedikit lebih baik ketika datang era Reformasi. Tepatnya ketika diberlakukannya UU No 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang secara eksplisit menyebutkan istilah “bank berdasarkan prinsip syariah”.

Undang-undang tersebut sudah memuat landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. Undang-undang itu juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengonversi diri secara total menjadi bank umum syariah.

Munculnya bank syariah yang ditopang peraturan perundang-undangan yang kokoh membawa dampak berantai pada lahirnya lembaga keuang an syariah nonbank, misalnya asuransi, pasar modal, reksadana serta lembaga keuangan dan bisnis syariah lainnya.

Keberadaan lembaga keuangan syariah, baik bank maupun non-bank, semakin berkembang setelah adanya beberapa peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur. Misalnya UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, UU No 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), berbagai peraturan Bank Indonesia, peraturan Bapepam, dan peraturan-peraturan lainnya.

Setelah lahirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kebijakan mengenai ekonomi syariah semakin terkonsolidasi karena kebijakan yang awalnya berada di beberapa lembaga yang berbeda ditarik menjadi satu atap di OJK.

Perkembangan eko nomi syariah di Indonesia di ha rapkan akan mengalami percepatan, terutama setelah lahirnya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang ketuanya langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Dalam beberapa hal, bank syariah dan bank konvensional memiliki persamaan. Namun terdapat banyak perbedaan men dasar di antara keduanya, terutama menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai, lingkungan kerja, dan mekanisme penghitungan keuntungan atau bagi hasil.

Dalam hal aspek legal, transaksi di bank syariah di dasarkan atas prinsip-prinsip hukum Islam. Dalam hal struktur organisasi, bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi. Namun unsur yang amat membedakan antara keduanya adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) di dalam bank syariah.

DPS bertugas mengawasi operasional bank syariah dan produk-produknya agar sesuai dengan prinsip syariah. DPS biasanya diposisikan setingkat dengan Dewan Komisaris.

Bank syariah juga harus mem perhatikan bisnis dan usaha yang harus dibiayainya. Harus dipastikan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, yang tecermin dari terbebasnya dari maysir, gharar, riba, dhulm, dan sebagainya.

Bank syariah juga harus memperhatikan lingkungan kerja dan corporate culture sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal etika, misalnya sifat amanah dan shiddiq harus menjadi landasan setiap karyawan, BoD dan BoC bank sehingga tercipta profesionalisme yang berdasarkan ajaran Islam.

Demikian pula dalam hal reward and punishment (imbalan dan sanksi), diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syariah. Selain itu cara berpakaian dan tingkah laku dari para karyawan merupakan cerminan bahwa mereka bekerja dalam sebuah lembaga keuangan yang membawa nama Islam sehingga tidak ada aurat yang terbuka dan tingkah laku yang tidak mencerminkan akhlaqul karimah.

Demikian pula dalam meng hadapi nasabah, akhlak harus senantiasa terjaga. Selain itu bank syariah juga memiliki kekhasan dalam hal penghitungan keuntungan. Melalui produk dan akad tertentu, penentuan keuntungan tidak dilakukan dengan flat atau konsultan, tapi fluktuatif karena penghitungan keuntungannya memakai prinsip bagi hasil.

Bank syariah sebagai salah satu pilar ekonomi syariah adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas umat Islam. Hal itu disebabkan ajaran Islam tidak hanya terkait dengan akidah dan ibadah, tetapi juga erat kaitannya dengan muamalah.

Dalam tataran implementatif, bank syariah bukan saja didasarkan pada perundang-undangan, tetapi juga harus patuh pada prinsip syariah. Aktivitas bank syariah yang dalam perspektif per atur an perundangan dinilai tidak melanggar, tapi jika menyalahi prinsip syariah, aktivitas ekonomi tersebut tetap dianggap tidak sah dan melanggar hukum.

Sebaliknya aktivitas bank yang secara hukum syariah sudah tidak ada masalah harus tunduk pula pada peraturan perundang-undangan. Oleh karenanya, bank syariah memerlu kan adanya sinergi antara peraturan perundangan dan prinsip-prinsip syariah.

Aktivitas bank syariah harus patuh dan tunduk pada dua hal seka ligus, yakni prinsip ekonomi dan prinsip syariah. Lokomotif penggerak ekonomi syariah antara lain adalah lembaga keuangan syariah, baik bank ataupun nonbank.

Ajaran agama menyebutkan bahwa lembaga keuangan syariah setidaknya harus memiliki peranperan sebagai berikut. Pertama, sebagai lembaga intermediasi ekonomi yang memudahkan para pihak pelaku ekonomi, khususnya pelaku ekonomi kecil (khidmah ijtima íi yah litaysiri al-mudtharrin wal-muhtajin).

Lembaga keuangan syariah mempertemukan pemilik modal (shahibul mal) yang tidak mampu atau tidak sempat untuk mengelola dananya dan pihak pengelola dana yang kekurangan modal (mudharib ). Alasannya sebagaimana disinggung dalam kitab Iía natut Thalibin: “... karena pemilik modal bisa jadi tidak baik dalam mengelola dananya, sedangkan orang yang tidak punya modal lebih baik. Maka pihak pertama (pemilik modal) butuh untuk mengelola, dan pihak kedua (pengelola) butuh pekerjaan.

Untuk menjembatani pihak yang saling memerlukan tersebut, perlu ada lembaga yang memfasilitasi transaksi keduanya. Lembaga keuangan syariah, terutama perbankan syariah, menjembatani kedua pihak tersebut. Keberadaan lembaga keuangan juga dirasa penting oleh kedua pihak yang melakukan transaksi ekonomi, misalnya penjual dan pembeli komoditas.

Karenanya perlu ada pasar tempat kedua pihak yang saling membutuhkan tersebut bisa melakukan transaksinya. Dalam hal ini syariah melarang adanya perantara yang tidak diperlukan kehadirannya ka rena akan menambah biaya harga komoditas.

Walaupun syariah membolehkan fee untuk perantara (ujratu at-taswiq ), tetapi hal itu tidak boleh kalau tidak diperlukan sebagai upaya untuk menghindarkan adanya penambahan biaya (talaqqi rukban ).

Kedua, membebaskan umat dari transaksi ribawi. Umat Islam semakin sadar bahwa sistem ekonomi kapitalis yang selama ini menjadi sistem ekonomi global cenderung mem bawa ketidakadilan. Hal ini mendorong kesadaran umat Islam untuk menerapkan ajaran agama nya, terutama dalam bidang ekonomi.

Sistem ekonomi kapitalis yang salah satunya bertumpu pada sistem bunga semakin menunjukkan dampak negatif dengan munculnya ketidakadilan ekonomi dan menimbulkan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar.

Sistem ekonomi kapitalis yang bertum pu pada sistem bunga dinilai sama dengan sistem ekonomi ribawi yang berkembang pada zaman Jahiliah, yang kemudian ketika Islam datang dikoreksi secara mendasar sebagaimana disampaikan Al-Jasshash: fa abthalahullahu wa harramahu (kemudian Allah membatalkan dan mengharamkan praktik ekonomi ribawi tersebut).

Sistem ekonomi kapitalis memang telah menjadi sistem ekonomi global, yaitu setiap negara tidak bisa meng hin da rinya. Namun setelah terbukti dam pak negatif yang ditimbulkannya, para ahli ekonomi melakukan upaya-upaya untuk me rumuskan sistem ekonomi alternatif yang bisa mengoreksi dampak buruk sistem ekonomi kapitalis.

Sistem ekonomi syariah yang bebas dari riba/bunga dinilai layak untuk menjadi sistem ekonomi alternatif mengga ntikan sistem ekonomi kapitalis. Ketiga, memberdayakan ekonomi umat. Sistem ekonomi syariah sangat mungkin untuk memberdayakan masyarakat karena sistem ekonomi syariah tidak menganut sistem “biaya dana” dan tidak boleh memberikan beban atas hal-hal yang menyangkut opportunity lose (alfurshah ad-dhaiíah).

Ekonomi syariah memakai sistem bagi hasil atau jual-beli, sehingga tidak ada beban bagi nasabah peng guna dana. Ajaran agama juga menggariskan bahwa ekonomi syariah harus memberikan ke longgaran bagi pihak-pihak yang mengalami kesulitan. Bagi mereka yang tengah dilanda kesulitan dianjurkan untuk memberikan kelonggaran melalui rescheduling atau restrukturisasi.

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan dan menyedekah kan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui“ (QS Al-Baqarah: 280).

Namun memang untuk merealisasi ajaran agama tersebut tidaklah mudah. Di antara masalah yang masih dihadapi lembaga keuangan syariah, terutama bank syariah, ialah belum mampu memberikan bantuan modal tanpa bagi hasil secara optimal melalui al-qardhu al-hasan karena dana-dana sosial yang terdiri atas zakat, infak, sedekah (ZIS) masih sangat kecil.

Masalah lain yang juga di hadapi lembaga keuangan syariah, khususnya bank syariah ialah belum mampu mem berikan pem biayaan tanpa jaminan karena harus menjaga dana shahibul mal dari wanprestasi nasabah.

Alasannya, karena, dana pinjaman tersebut bukanlah milik bank, tapi milik pihak ketiga yang harus dipertanggung jawabkan. Untuk menjembatani hal ini, perlu diperbanyak alqordhu al-hasan sehingga mampu secara nyata membantu pemberdayaan ekonomi umat di lapisan ekonomi kecil.

Sumber: Sindonews

Senin, 29 Mei 2017

Ilahiyah Finance: FinTech, AgriTech dan PropTech

TECK FEVER atau deman teknologi nampaknya sedang men-disrupt seluruh sektor industri. Setelah dua tahun berturut-turut tim Startup Center – Depok berkesempatan belajar langsung di epicentrum perkembangan teknologi dunia di Silicon Valley antara lain belajar tentang FinTech, tim yang sama sekarang belajar gratis pula dari epicentrum AgriTech dunia di Tokyo. Yang dua ini belum khatam benar, kita sudah diiming-imingi untuk belajar yang lain lagi yang baru – yaitu apa yang disebut dengan PropTech. Dagangan baru apakah ini dan dimana peluang kita?

FinTech atau Financial Technology sendiri masih barang yang sangat baru, di Indonesia peraturan OJK-nya baru keluar akhir tahun lalu – tetapi di belahan dunia lain dia sudah menjadi bisnis yang sangat besar. Bahkan FinTech semacam Lending Club dan sejenisnya sudah men-disrupt perbankan retail di negeri Paman Sam itu.

AgriTech atau Agricultural Technology sebenarnya bukan barang baru – karena teknologi pertanian sendiri sudah berkembang selama lebih dari satu abad terakhir. Tetapi apa yang membuatnya AgriTech    sekarang berbeda dengan perkembangan teknologi pertanian sebelumnya – adalah karena environment businessnya yang berbeda.

Environment startup yang didominasi oleh teknologi informasi yang sangat kental nampak menonjol di hampir semua peserta AgriTech  Summit di Tokyo yang sedang berlangsung saat artikel ini saya tulis. Pertanian berbasis IT, Big Data, Drone, Apps, Clouds dlsb. mendonminasi bertemunya para jawara AgriTech    kali ini.

Lantas apa itu PropTech? Ini adalah kependekan dari Property Technology atau kadang juga disebut RealTech dari Real Estate Technology. Intinya adalah penggunaan teknologi yang sama dengan yang di atas plus berbagai teknologi yang spesifik untuk mengidentifikasi dan eksplorasi peluang baru, membangun, mengelola dan memasarkan sektor property ini.

Tidak ada definisi atau batasan yang pas untuk menggambarkan ruang lingkup FinTech, AgriTech    maupun PropTech ini karena karakter startup itu sendiri adalah innovative, creative, fast growing dan out of the box. Kalau dia dibatasi dengan definisi tertentu malah dia akan terkungkung dengan batasan itu sendiri.

Lantas dimana peluang startup-startup kita sesungguhnya ? Setelah banyak belajar dari pusat-pusat menjalarnya tech fever – demam teknologi  dunia tersebut, saya melihat sangat bisa jadi peluang kita justru ada di ‘rumah’ kita sendiri. Guru dan sumber ilmu kita bukan mereka, tetapi ada di petunjuk yang setiap hari sudah kita baca.

Sangat menarik yang saya temukan di dalam Al-Qur’an, setidaknya ada 7 ayat yang redaksinya nyaris sama satu dengan lainnya – yang semuanya mendorong kita untuk bepergian ke seluruh penjuru bumi – dan targetnyapun sama, yaitu untuk memperhatikan kesudahan orang-orang sebelum mereka. Saya ambil contoh di ayat berikut misalnya :

۞ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۚ دَمَّرَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِمۡ‌ۖ وَلِلۡكَـٰفِرِينَ أَمۡثَـٰلُهَا (١٠)

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka…” (QS: Muhammad [47]:10).

Dan kita akan menemukan anjuran yang sama di enam ayat lainnya yaitu 12:109; 16:36 ; 30:42 ; 35:44; 40:21 dan 40:82. Apa makna anjuran Allah yang berulang-ulang sampai tujuh kali ini? Ini menunjukkan penekanan pentingnya anjuran yang diulang-ulang tersebut.

Lantas apa isi anjurannya? Intinya ada dua – yang pertama adalah perjalanan di muka bumi dan yang kedua tentang pelajaran yang diambil. Yang menariknya lagi di seluruh tujuh ayat ini, pelajaran yang disuruh ambil adalah tentang kesudahan  orang-orang sebelumnya – dan semuanya merujuk pada kesalahan orang-orang sebelumnya. Jadi intinya dianjurkan apa kita yang sampai tujuh kali tersebut?

Belajar dari kesalahan mereka sebelumnya, dan kemudian tentu konsekwensi dari ini adalah memperbaikinya. Tugas untuk membuat perbaikan semampu yang kita bisa inilah inti dari perintah kepada kita – khalifah-nya di muka bumi ini. Tugas melakukan perbaikan ini di Al-Qur’an antara lain diungkap melalui penuturan Nabi Syu’aib, “…Aku hanya berkendak untuk membuat perbaikan selama aku masih sanggup…” (QS 11:88).

Lantas perbaikan-perbaikan seperti apa di jaman teknologi ini yang bisa kita lakukan? Lha wong mereka semua sudah sangat canggih-canggih jauh melampaui yang kita kuasai? Kembali ke ungkapan Nabi Syu’aib tersebut di atas, “perbaikan yang kita mampu”. Dan saya melihat inysaAllah kemampuan itu sebatas tertentu ada di kita, jadi kita wajib untuk berbuat semampu yang kita bisa ini.

Di bidang FinTech misalnya, yang menyebar di seluruh dunia rata-rata FinTech yang berbasis ribawi. Maka peluang kita justru menghadirkan FinTech yang bebas dari riba, di sinilah peluang terbaik umat ini untuk menghadirkan solusi keuangan yang bebas dari legacy keuangan ribawi.

Membuat bank butuh modal trilyunan, berat bagi umat ini dan tidak perlu menjadi prioritas. Karena solusi melawan riba itu adanya di perdagangan dan di sedekah, kalau kita kuatkan FinTech berbasis jual-beli dan berbasis sedekah – maka inilah kesempatan kita untuk bisa menjauh sejauh-jauhnya dari debu riba itu.

FinTech tidak butuh modal Trilyunan, dengan modal 1 sampai 2 milyar Rupiah-pun bisa lahir FinTech berbasis syariah – inilah yang masih berada di batas kemampuan kita untuk berbuat, maka mengapa kita tidak berbuat untuk membuat perbaikan?

Di bidang AgriTech    saya menyaksikan kerusakan lain karena hampir semua AgriTech  yang berkembang melibatkan chemical, rekayasa genetika dan sejenisnya. Ketika mereka mencari sumber pangan baru, untuk sumber protein barupun mereka mencari dari sumber-sumber yang ngawur karena mereka tidak memiliki petunjuk.

Di depan booth saya di AgriTech Summit adalah booth seorang professor ahli serangga Jepang yang sangat baik dan sopan. Keahlian dia ini yang menggelitik saya, yaitu dia specialist teknologi peternakan jangkrik modern. Menurut sang professor ini, jangkrik adalah masa depan sumber protein bagi dunia karena 70% tubuhnya berisi protein.

Meskipun dia begitu mahir dengan penjelasannya tentang berbagai science yang sangat canggih, saya tetap tidak bisa yakin kalau jangkrik ini jadi solusi pangan kita – jangkrik gitu lhoh ! Ilmu kita mungkin tidak setinggi sang professor, tetapi alhamdulillahnya kita memiliki petunjuk yang sangat detil dan akurat. Sumber-sumber makanan kita sudah direnceng oleh Allah di Surat ‘Abasa 24-32 dan sejumlah besar ayat-ayat lain yang menguatkannya.

Jadi kalau toh kita akan mengembangkan Startup di bidang AgriTech , sumber rujukan kita sangat jelas. Mulai dari nutrisi tanaman bebas kimia, memilih jenis tananam sumber protein, jenis binatang yang menjadi sumber protein terbaik, mengatasi musim, memilih lokasi bertani sampai mengelolanya menjadi agriwisata bila perlu – semuanya ada petunjuknya di Al-Qur’an. Maka perbaikan di bidang AgriTech inipun mestinya sampai sebatas tertentu kemampuannya juga ada di kita, mengapa kita tidak berbuat?

Yang terakhir adalah tentang PropTech, Property adalah bisnis yang sangat besar di dunia karena nilainya yang terus melonjak dari waktu ke waktu. Pengadaan rumah yang terjangkau merupakan challenge bagi setiap negara di dunia. Maka bidang garapan PropTech itu amat sangat luas, mulai dari teknologi konstruksi yang murah dan aman, teknologi material, teknologi pembiayaan, pengelolaan resourcesnya sampai teknologi pengelolaan property setelah property-nya itu sendiri jadi.

Lagi-lagi ruang untuk melakukan perbaikan itu selalu terbuka untuk dapat kita lakukan, mulai dari memperbaiki teknologi material banguan – sampai teknologi untuk pembiayaannya sangat mungkin digali dari Al-Qur’an. Sebagai contoh misalnya ketika dunia berlomba untuk mencari bahan bangunan yang murah dan sustainable, kita sudah diberi petunjuk lebih dari1,400 tahun lalu bahwa salah satu sumber bahan bangunan itu adalah kulit binatang, Think about it!

Hanya mendalami jangkrik seorang professor di Jepang bisa dianggap membuat terobosan temuan untuk pangan masa depan – meskipun saya juga meragukannya – masak mendalami seluk-beluk rumah masa depan berbasis kulit binatang yang dasarnya amat sangat kuat di Al-Qur’an tidak bisa menjadikannya startup yang mendunia?

Tetapi PropTech sangat luas bidangnya, maka selain peluang PropTech Startup untuk material rumah dari kulit wedus tersebut – saya ingin memberikan satu contoh lagi aplikasinya. Di dunia PropTech sekarang yang menjadi idola adalah AirBnB, yaitu situs akomodasi yang keberadaannya sudah men-disrupt industri perhotelan dunia. Lantas perbaikan apa yang bisa kita lakukan dalam batas kemampuan kita?

Saya melihat peluangnya di industri halal yang saya sebut saja Halal Pool! Dalam bahasa jawa Halal Pool (dibaca Halal Pol) berarti  amat sangat halal – halal sampai batas maksimal! Dalam bahasa Inggris memiliki arti Kolam Halal – dan ini benar karena salah satu maknanya memang kita mulai memperkenalkan kolam renang halal. Tetapi arti yang lebih luas adalah berkumpulnya segala sesuatu yang halal. Bisa berupa akomodasi, kolam, restoran, bahan pangan dan lain sebagainya yang serba halal.

Halal Pool inilah antara lain yang bisa menjadi perbaikan semampu yang kita miliki, untuk menangkap peluang tumbuhnya Halal Tourism Industry – yang bahkan juga sudah diincar oleh negara-negara lain yang mayoritas penduduknya bukan muslim.

Lagi-lagi, konsep tourism-pun perlu kita perbaiki dari yang cenderung negatif dan pemborosan menjadi pengamalan anjuran di tujuh ayat tersebut di atas. Anjuran untuk bepergian ke seluruh penjuru bumi dan mengambil pelajaran dari (kesalahan) orang-orang sebelumnya. Dengan adanya Halal Pool, maka perjalanan ke seluruh penjuru bumi menjadi lebih aman, lebih mudah dan insyaallah juga menjadi jauh lebih murah karena kita bisa tinggal di akomodasi yang juga disediakan oleh saudara-saudara kita.

Solusi-solusi tersebut membuktikan bahwa Al-Qur’an yang benar saat diturunkan itu, sungguh-sungguh dijaga Allah untuk tetap benar sampai sekarang dan bahkan sampai akhir jaman sekalipun. Kalau kita bisa berpegang kuat kepada petunjuk yang satu ini, seperti dijanjikanNya pula – kita tidak akan pernah khawatir dan bersedih hati (QS 2:38), termasuk ketika di dunia sedang dilanda dan dicengkeram oleh demam teknologi ini.

Jumat, 12 November 2010

Pertanian: Seni Maju Peradaban Islam yang Mulai Ditinggalkan

ADA pepatah Arab mengatakan, “Alfallaahu sayyidul bilaadi wa maalikuhu-l-haqiiqi.” (seorang petani adalah tuan dari sebuah Negara dan pemilik wilayah yang sesungguhnya). Betapa pentingnya pertaniaan dan kemuliaan seorang petani dalam pandangan Islam.

Namun sekiranya kita melihat keadaan sekeliling kita, bahwasanya keberadaan petani tidaklah bernilai lebih dari wujud buruh. Masyarakat modern sekarang tidaklah memperhatikan bahwasanya kerja keras petanilah yang mempunyai peran paling besar dalam kelangsungan kesejahteraan manusia, dari segi pangan terutama. 

Padahal, sebagai khalifah di muka bumi, alangkah sudah sepatutnya manusia untuk memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pada para petani, sebagaimana islam telah memuliakan petani sejak zaman dahulu, dan pertanian zaman islam sendiri pun telah menjadi sebuah corak peradaban dengan nilai tambah tersendiri yang tak mungkin terpisahkan.

Kepentingan sektor pertanian dalam kehidupan manusia dan keperluannya begitu ketara sejak zaman terawal lagi. Sejak sekian lama sektor pertanian sentiasa diberikan penekanan oleh ahli agronomi dalam kajian dan tulisan mereka.

Sebuah contoh saja Al-Qazwini. Ia adalah ilmuwan yang lahir di Kazwin, Persia pada tahun 1200 M / 600 H. Ia adalah seorang ilmuwan muslim yang ahli dalam bidang botani, geografi, astronomi, mineralogi hingga etnografi.

Dalam bukunya yang berjudul “Ajaib al Makhluqat wa Garaib al Maujudat”, Al Qazwini menerangkan betapa pertanian amat penting dalam kelangsungan hidup manusia.

Dalam masa khilafah islamiyah pun, kegiatan pertanian merupakan salah satu daripada pekerjaan yang mulia dan amat digalakkan. Kepentingannya tidak dapat dinafikan lagi apabila hasil industri ini turut menyumbang kepada hasil makanan negara selain merupakan sumber pendapatan petani. 

Bidang pertanian juga merupakan salah satu dari sekian lahan pekerjaan halal yang amat diutamakan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dalam Kitab-Nya Allah berfirman:

“Kami menjadikan (di atas muka bumi ini tempat yang sesuai untuk dibuat) ladang-ladang kurma dan anggur. Kami pancarkan banyak mata air (di situ). Tujuannya supaya mereka boleh mendapat rezeki daripada hasil tanaman tersebut dan tanam-tanaman lain yang mereka usahakan. Adakah mereka berasa tidak perlu bersyukur?.” (QS: Yasin : 34-35)

Rasulullah SAW pun bersabda dalam sebauh hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Tiada seorang Muslim pun yang bertani atau berladang lalu hasil pertaniannya dimakan oleh burung atau manusia ataupun binatang melainkan bagi dirinya daripada tanaman itu pahala sedekah.”

Dalam sebuah hadist riwayat Muslim, juga disebutkan, “Tiada seorang muslim menanam dan bertani maka hasil pertaniannya itu dimakan oleh manusia, binatang dan sebagainya melainkan dia akan menerima ganjaran pahala sedekah – dalam riwayat yang lain: “melainkan dia akan menerima pahala sedekah hingga hari Kiamat.”

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam An- Nawawi bahawa hadits-hadits yang dinyatakan di atas adalah penjelasan mengenai fadilat (kelebihan) bercocok tanam dan ganjaran bagi orang yang melakukannya itu berterusan hingga hari Kiamat selagi tanaman itu masih kekal.

Bahkan Imam An-Nawawi sendiripun pernah berpendapat bahwasanya pertanian merpupakan pekerjaan yang paling afdhal dan diridhoi oleh Allah SWT (Al-Majmuk: 9/54 & Shahih Muslim Syarh Imam An-Nawawi)

Sedangkan dari aspek akidah, kegiatan pertanian dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah. Di mana tanda kebesaran Allah dapat dilihat dengan jelas dalam proses kejadian tumbuh-tumbuhan atau tanaman. 

Apabila seseorang itu melakukan usaha pertanian, ia akan membuatkan seseorang itu lebih memahami hakikat sebenar konsep tawakal dan beriman kepada kekuasaan-Nya. Yang memberikan hasil tetap datangnya dari Allah Swt.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Kitab-Nya dalam surat Al An’aam ayat 99 yang diterjemahkan sebagaimana berikut:

“Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu segala jenis tumbuh-tumbuhan, kemudian Kami keluarkan daripadanya tanaman yang menghijau, Kami keluarkan pula dari tanaman itu butir-butir (buah-buahan) yang bergugus-gugus; dan dari pohon-pohon tamar (kurma), dari mayang-mayangnya (Kami keluarkan) tandan-tandan buah yang mudah dicapai dan dipetik; dan (Kami jadikan) kebun-kebun dari anggur dan zaitun serta delima, yang bersamaan (bentuk, rupa dan rasanya) dan yang tidak bersamaan. Perhatikanlah kamu kepada buahnya apabila ia berbuah, dan ketika masaknya. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda (yang menunjukkan kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-An`am : 99)

Menurut Dr. Zainal Azam Abd. Rahman seorang cendikiawan Islam, menyatakan bahwa kegiatan pertanian dapat diijtihadkan menjadi fardi kifayah hukumnya karena manfaatnya jauh lebih besar daripada manfaat pribadi, sebagaimana firman Allah dalam surah Abasa ayat 27 – 32 yang artinya:

“Lalu Kami tumbuhkan pada bumi biji-bijian (27) Dan buah anggur serta sayur-sayuran (28) Dan zaitun serta pohon-pohon kurma (29) Dan taman-taman yang menghijau subur (30) Dan berbagai-bagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput. (31) Untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternakan kamu (32).” (Q.S. `Abasa :27-32)

Pertanian dalam Peradaban Islam

Pada sekitar abad 7-8, agama Islam berkembang sangat pesat, mulai dari Asia, Afrika, hingga Eropa. Demikian juga khazanah ilmu pengetahuan Islam, termasuk bidang pertanian, telah mengalami revolusi yang amat mencengangkan. Tercatat, dalam sejarah Islam, revolusi ini mengalir dari wilayah dunia timur ke barat.

Salah satu hal yang menonjol dalam revolusi pertanian kala itu adalah dikenalnya banyak jenis tanaman baru dan peralatan pertanian. Pada buku Teknologi dalam Sejarah Islam karya Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill, disebutkan beberapa jenis tanaman yang mulai dikenal masyarakat Arab dalam revolusi itu, seperti padi, tebu, kapas, terong, bayam, semangka, dan berbagai sayuran serta buah-buahan lainnya.

Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill pun sempat menyalurkan pendapatnya lewat buku mereka tersebut;

“……Penyebaran ini sungguh luar biasa, mengingat penyebaran tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu yang singkat. Terlebih lagi, tanaman-tanaman itu berasal dari daerah tropis yang tidak mudah ditanam di daerah yang lebih dingin dan kering (seperti di Jazirah Arab dan Afrika). Prestasi ini tak ada tandingannya hingga masa-masa setelahnya……..,”

Pengenalan tanaman-tanaman baru itu diikuti pula dengan penemuan cara teknik bercocok tanamnya. Sebelumnya, petani di kawasan Arab dan Afrika memulai musim tanam ketika musim dingin tiba. Sedangkan, pada musim panas, sawah mereka dibiarkan kosong dan mereka pun menganggur. Model bercocok tanam seperti itu tidak dapat dipertahankan setelah revolusi pertanian terjadi pada era Islam. Karena, padi, kapas, tebu terong, dan semangka hanya dapat tumbuh dan berbuah pada musim panas. 

Dengan demikian, irama agrikultur tahunan pun berubah total. Tanah dan tenaga yang dulunya menganggur ketika musim panas, sejak saat itu, bergerak lebih produktif.

Efek positif lainnya yang diketahui berpengaruh adalah ditemukannya sistem cocok tanam yang baru. Tanaman, seperti padi, tebu, dan kapas, memang memerlukan air dalam jumlah yang banyak. Sedangkan, sistem pengairan sebelum masa Islam, menurut Al-Hassan dan Hill, sama sekali tidak mendukung kelangsungan sistem pertanian yang baru ini. 

Hingga akhirnya, masyarakat Islam membangun sistem irigasi dengan pola dan sistem yang lebih modern. Diciptakanlah teknologi irigasi, distribusi air, serta cara-cara penyimpanannya. Sampai-sampai hampir di semua sumber air, seperti sungai, oasis, dan mata air, didirikan bangunan atau peralatan pengairan kebun dan sawah.

Haram dalam Pertanian

Namun, berkaitan dalam betapa besar pengaruh pertanian dalam Peradaban Islam, Imam An-Nawawi pun menambahkan bahwasanya menanam tanaman yang bisa menjerumuskan kepasa sesuatu yang membahayakan, baik mabuk maupun ketagihan adalah sesuatu yang terlarang. 

Seperti jikalau seorang menaman buah anggur untuk kepentingan sebuah pabrik minuman keras misalnya, maka usaha pertanianya jelas-jelas haram. Karena secara tidak langsung dia telah membantu ummat untuk berbuat maksiat.

Namun, jika kita saksikan di Indonesia sekarang ini, telah terjadi pergulatan yang cukup panas antara kubu pendukung tetap berdirinya pabrik rokok dan yang kontra terhadapnya.

Sebagai contoh saja, NU hanya menyatakan bahwasanya hukum rokok hanya sampai tahap makruh saja, sementara Muhammadiyah menghukumi haram.

Sebagai penutup, Indonesia adalah bagian bumi yang terhijau dan telah menggugah liur para penjajah Eropa selama lebih 350 tahun. Lihatlah keluar jendela Anda sekarang dan perhatikan selembar daun ataupun sehelai rumput yang melambai-lambai. Itulah kekayaan Negeri kita yang tak ada duanya. Nah, mengapa pertanian tidak kita galakkan untuk menunjukkan, betapa besar nikmat Allah kepada kita?

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage